Tentang HIV / AIDS

Apa Itu AIDS???

Terinfeksi Virus HIV dan IADS
Terinfeksi Virus HIV dan IADS

AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalan dirusak oleh virus yang disebut HIV. AIDS sebetulnya sudah tercermin dari nama lengkapnya: ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME, atau bisa diartikan sindrom cacat kekebalan tubuh. AIDS adalah suatu sindrom yang fatal karena terjadi kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan manusia amat rentan dan mudah terjangkit beberapa penyakit tertentu. Utamanya yang disebabkan oleh berbagai jenis protozoa, cacing, jamur, bakteri, virus dan kanker. Sehingga, penyakit-penyakit yang menyerang penderitanya amat bervariasi. Dan karena alasan itu pulalah, maka AIDS kurang tepat jika disebut penyakit melainkan sindrom.

Apa Itu HIV???

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, yang dalam stadium lanjutnya kemudian menjelma menjadi AIDS. Hingga saat ini, mekanisme kerja HIV di dalam tubuh manusia masih terus diteliti. Namun, secara umum, telah diketahui bahwa HIV menyerang sel-sel darah putih, sistem kekebalan tubuh yang bertugas menangkal infeksi sel darah putih itu bernama limfosit, juga disebut sel T-4, sel penolong, atau CD-4.

HIV tergolong dalam kelompok retrovirus, yaitu kelompok virus yang mempunyai kemampuan untuk menggandakan cetak biru materi genetik diri di dalam materi genetik sel-sel manusia yang ditumpangi. Dengan proses ini, HIV dapat mematikan sel-sel penolong T-4.

Masa inkubasi atau laten infeksi HIV bisa bertahun-tahun, menurut penelitian yang saat ini masih dipercayai, berkisar 5-7 tahun. Yang perlu diketahui dan patut dimengerti, selama masa ini, orang yang terinfeksi HIV tidak akan memperlihatkan gejala-gejala. Namun lambat laun, karena semakin menurun jumlah T-4-nya, semakin rusak pulalah fungsi kekebalan tubuhnya. Di saat seperti ini, penyakit-penyakit akan mudah masuk. Penyakit yang semula tidak serius menyerang tubuh (di saat sistem kekebalan tubuh belum rusak), akan berkembang menjadi parah, seiring dengan menurunnya kekebalan tubuh. Pada saat kekebalan tubuh sudah memasuki keadaan yang parah, seorang pengidap HIV akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.

Penularan HIV

Penyebaran HIV/AIDS
Penyebaran HIV/AIDS

Seseorang yang mengidap HIV tidak menunjukkan sesuatu gejala klinis yang disebut tanpa gejala, atau istilah lainnya: asimtomatik, atau merasa dan tampak sehat selama bertahun-tahun sebelum AIDS mulai muncul. Kondisi ini yang patut diwaspadai. Dengan kata lain, di sinilah letak bahaya terselubung bagi penyebaran dan penularan HIV, karena seseorang tidak bisa membedakan jika orang lain telah terinfeksi HIV atau tidak.

Apakah seseorang yang mengidap HIV bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain? Satu pertanyaan yang patut mendapatkan perhatian, karena jawabannya mudah: seseorang yang tertular HIV, meskipun belum mengalami dan memperlihatkan gejala, orang itu telah dapat menularkan HIV kepada orang lain dengan jalur tertentu. Perlu dipahami, HIV ditemukan dalam darah dan cairan sperma atau cairan vagina dari seorang pengidap HIV dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi orang lain. Perlu juga diketahui, penularan itu tidak terlalu mudah, hanya bila HIV di dalam darah atau cairan tubuh itu memasuki aliran darah orang lain.

Cairan tubuh yang bisa menularkan HIV, sekali lagi, di antaranya adalah darah, cairan sperma dan vagina. Sementara, cairan tubuh yang tidak dapat menularkan HIV, adalah keringat, air mata, air ludah, dan air seni. Perkembangan terbaru, virus ini juga bisa menular lewat gonta-ganti jarum suntik yang tidak steril dan terinfeksi atau tercemar dengan HIV.

HIV dapat menular kepada siapa pun melalui cara tertentu, tanpa peduli apa kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksualnya. HIV bisa menular lewat hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa pengaman (misalnya kondom), melalui darah yang sudah terinfeksi HIV, lewat transfusi darah atau alat-alat yang telah tercemar HIV, melalui ibu yang mengidap HIV kepada janin dikandungnya selama kehamilan.

Sehingga, dapat diambil kesimpulan, yang bisa mempermudah penularan HIV, di antaranya, berhubungan seks yang tidak aman, gonta-ganti pasangan seks, gonta-ganti jarum suntik dan memperoleh transfusi darah yang tercemar HIV.

Melalui Jarum Suntik
Melalui Jarum Suntik

Penularan terjadi, jika HIV masuk langsung ke aliran darah, (perlu diketahui HIV sangat rapuh dan cepat mati di luar tubuh manusia, virus ini juga sensitif sekali terhadap panas dan tidak kuat hidup pada suhu di atas 60 derajat celsius). Untuk tertular, harus ada konsentrasi HIV cukup tinggi. Di bawah konsentrasi tertentu, tubuh manusia dapat mengeluarkan HIV yang masuk, sehingga infeksi tidak terjadi.

Pencegahan Penularan HIV

Cara pencegahan penularan HIV yang terbaik, tidak melakukan perilaku perilaku yang beresiko tinggi, yaitu menjaga agar jangan sampai cairan tubuh yang telah tercemar HIV masuk ke dalam tubuh, di antaranya mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual yang dilakukan secara serampangan, atau dapat diartikan pula, dengan cara tidak berganti-ganti pasangan.

Kemudian, mencegah penularan HIV melalui alat-alat yang tercemar darah HIV, juga perlu dilakukan. Cara yang dapat ditempuh melalui dengan hanya menggunakan peralatan streril pada penggunaan alat yang menembus kulit dan darah (seperti jarum suntik, jarum tato, pisau cukur dan lain-lain). Sterilisasi alat-alat ini dengan mencuci alat-alat tersebut dengan pencucian yang benar. Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain!

Dan, terakhir, mencegah penularan HIV lewat darah secara langsung, dengan cara screening darah yang akan ditransfusikan, yang tentu dilakukan pihak-pihak berwenang misalnya PMI.

Karena itulah, pola hidup yang sehat amat penting di dalam menjaga kesehatan. Terlebih, hingga kini, anti-virus untuk menangkal penyakit AIDS dan HIV belumlah ditemukan. Dan, jangan pula di dalam kehidupan sosial kita, mengucilkan para pengidap HIV dan AIDS. Sebab, secara medis, selama kita dapat menjaga pola hidup kita yang sehat, kita tidak akan mudah tertular, meski berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang yang hidup dengan HIV dan AIDS.

Categories: Kesehatan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: